Yogyakarta, 23 Juni 2026 – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) melalui Pusat Kajian Lembaga Kerja Sama Fakultas Teknik (LKFT) UGM bersama PT PLN (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melanjutkan penyusunan kajian strategis konversi kompor LPG ke kompor listrik di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC) FT UGM. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Kick Off Meeting yang telah dilaksanakan sebelumnya sebagai bagian dari upaya mendukung transformasi energi nasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kompor induksi terbukti memiliki efisiensi energi mencapai sekitar 90%, serta lebih hemat biaya operasional dibandingkan penggunaan LPG. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kompor gas yang hanya berada pada kisaran 40–60%. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pengembangan skenario implementasi konversi kompor listrik di Indonesia.
Kajian ini difokuskan pada identifikasi berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan implementasi program, mulai dari kesiapan infrastruktur kelistrikan, mekanisme tarif, aspek regulasi, hingga penerimaan masyarakat. Pendekatan multidisiplin digunakan untuk memastikan rekomendasi yang dihasilkan mampu menjawab tantangan teknis, ekonomi, sosial, dan kelembagaan secara komprehensif.

Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kesiapan teknologi perlu diimbangi dengan strategi implementasi yang mempertimbangkan kondisi masyarakat di berbagai wilayah. Selain faktor kapasitas daya listrik rumah tangga, aspek kepercayaan publik, pola konsumsi energi, dan karakteristik geografis menjadi elemen penting yang perlu diperhatikan dalam perumusan kebijakan.

Gigih Adi Atmaja, S.T., M.EPM., selaku Direktur Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan pentingnya segmentasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan, termasuk berdasarkan desil kesejahteraan dan karakteristik wilayah. Ia juga menyoroti pentingnya efisiensi dan keandalan sistem kelistrikan, serta perlunya kajian lebih lanjut terkait pemilihan jenis kompor, baik kompor induksi maupun kompor halogen, agar implementasi program dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di berbagai kondisi.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri, kajian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang implementatif dan berbasis bukti ilmiah. Hasil kajian akan menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung percepatan transisi menuju sistem energi yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan. (Jurnalis LKFT UGM)