Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri energi kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendorong kemandirian teknologi nasional. Dinamika global sektor migas, termasuk potensi gangguan rantai pasok seperti isu pemblokiran Selat Hormuz, menjadikan kolaborasi inovatif semakin relevan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus memperkuat kapasitas dalam negeri, sejalan dengan upaya menuju energi bersih dan penguatan sistem energi yang lebih efisien. Diskusi awal terkait rencana kerja sama ini telah dilaksanakan pada 15 April 2026 di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC) Fakultas Teknik UGM. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan antara akademisi dan praktisi industri guna merumuskan arah pengembangan teknologi yang akan dikolaborasikan.
LKFT UGM menjalin rencana kerja sama dengan Pertamina Hulu Energi dalam pengembangan teknologi pengeboran, khususnya pada re-engineering komponen Reamer Shoe Drilling. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah menghasilkan desain alat yang lebih optimal dan adaptif terhadap kebutuhan operasi pengeboran di Indonesia. Bentuk kerja sama difokuskan pada kegiatan desain dan simulasi teknik yang melibatkan dosen Departemen Teknik Mesin dan Industri UGM serta tim Upstream Innovation fungsi drilling dari Pertamina Hulu Energi. Tim dari LKFT UGM dipimpin oleh Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., yang berperan dalam mengoordinasikan proses perancangan dan pengembangan teknologi.

Proses pengembangan memanfaatkan metode simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) dan Finite Element Method (FEM) guna memastikan performa alat yang lebih efisien dan andal. Implementasi kegiatan re-design direncanakan berlangsung di lingkungan UGM, sementara tahap penerapan lapangan dilakukan di wilayah operasional Pertamina Hulu Energi. Program ini dijadwalkan mulai pada Mei hingga Juni 2026 dengan durasi pelaksanaan sekitar enam bulan.
Tahapan kerja mencakup dua fase utama, yaitu proses re-design dan tahap manufaktur Reamer Shoe Drilling. Hasil jangka pendek yang diharapkan berupa desain alat yang lebih optimal. Target jangka panjang diarahkan pada realisasi produksi alat dalam negeri yang mampu mendukung kebutuhan industri migas nasional serta memperkuat sektor manufaktur dalam negeri.
Urgensi pengembangan ini turut disampaikan oleh Ir. Muslim Mahardika selaku pimpinan tim LKFT UGM. Ia menekankan bahwa pemblokiran Selat Hormuz memberikan dampak signifikan terhadap industri migas di Indonesia. Pengembangan alat berbasis produksi dalam negeri dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sinergi ini diharapkan dapat melahirkan inovasi teknologi yang tidak hanya menjawab tantangan teknis pengeboran, tetapi juga memperkuat kemitraan antara akademisi dan industri dalam pengembangan energi berkelanjutan. (Jurnalis LKFT UGM)