Pengembangan inovasi booster pertanian berbasis panas bumi, Katrili, memasuki tahap lanjutan melalui diskusi yang digelar di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), Kamis (23/4). Pertemuan ini mempertemukan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), FT UGM, serta PT Agrotekno Estetika Laboratoris (AEL) guna membahas arah pengembangan riset sekaligus langkah strategis ke depan.
Diskusi tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian proyek setelah pelaksanaan uji coba demplot di Sulawesi Utara pada berbagai komoditas tanaman, yang menjadi tahap awal validasi lapangan terhadap efektivitas produk Katrili. Inisiatif ini juga menjadi bagian penting dari Project Beyond-Katrili yang mengintegrasikan pemanfaatan energi panas bumi sektor pertanian. Selain itu, program ini sejalan dengan upaya penguatan hilirisasi riset dan pengembangan teknologi terapan untuk mendukung ketahanan pangan nasional berbasis sumber daya lokal dan berkelanjutan. Fokus utama pembahasan kali ini adalah rencana pelaksanaan kajian lebih mendalam guna menilai aspek kelayakan teknis serta keekonomian produk Katrili sebelum dikembangkan lebih luas.
Para pihak sepakat bahwa tahap berikutnya akan diwujudkan dalam bentuk studi bersama yang melibatkan FT UGM, PT PGE, serta PT AEL. Studi ini diharapkan memberikan gambaran komprehensif mengenai potensi implementasi Katrili, mulai dari aspek teknologi, efisiensi produksi, hingga peluang komersialisasi di sektor pertanian.

Dalam diskusi ini, tim peneliti FT UGM menekankan pentingnya validasi lanjutan berbasis data ilmiah serta uji lapangan berkelanjutan. Kajian teknis akan mencakup efektivitas formulasi, stabilitas produk, serta dampaknya terhadap berbagai jenis komoditas pertanian. Sementara itu, aspek keekonomian akan menyoroti efisiensi biaya produksi, skalabilitas industri, serta daya saing produk dibandingkan pupuk konvensional.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Andi Joko Nugroho, menegaskan bahwa hilirisasi energi menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi sumber daya Indonesia. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi ini tidak hanya mempercepat inovasi, tetapi juga menjadi bagian dari implementasi visi perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, pengembangan bisnis panas bumi kini tidak lagi terbatas pada pembangkitan listrik, melainkan telah berkembang ke konsep beyond electricity yang memberi manfaat lintas sektor, termasuk pertanian. Ia berharap Project Beyond-Katrili dapat menjadi bagian dari strategi besar PGE dalam memperluas pemanfaatan panas bumi sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian melalui riset berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, industri energi, dan sektor teknologi pertanian dalam mendorong inovasi berbasis riset. Hasil kajian nantinya akan menjadi dasar pengembangan lanjutan, termasuk potensi produksi massal dan distribusi kepada petani di berbagai wilayah Indonesia. (Jurnalis LKFT UGM)