Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) dan PT Geo Dipa Energi resmi meresmikan co-working space geotermal di Gedung ERIC FT UGM (12/05). Ini bukan sekadar fasilitas baru—ini adalah ruang di mana mahasiswa, peneliti, dan insinyur lapangan bisa duduk semeja, berbagi data, dan bersama-sama menjawab tantangan energi panas bumi Indonesia.
Indonesia menyimpan cadangan geotermal terbesar di dunia, namun jarak antara riset kampus dan kebutuhan lapangan selama ini masih lebar. Kehadiran ruang kolaboratif ini menjadi jembatan nyata antara dunia akademik dan industri dalam mendukung pengembangan energi panas bumi nasional yang berkelanjutan.
Kepala Pusat Penelitian Panas Bumi FT UGM, Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM., menegaskan bahwa ruang ini memiliki makna yang melampaui fungsi fisiknya.
“Ruang ini bukan hanya untuk bekerja, tapi tempat menumbuhkan ide bersama,” ungkapnya.
Ia juga memaparkan bahwa kolaborasi ini telah menghasilkan pertumbuhan pesat dalam teknologi geotermal berkat kemitraan FT UGM dengan berbagai mitra nasional dan internasional, serta program edukasi geotermal yang menjangkau guru dan jurnalis untuk menyebarluaskan potensi panas bumi Indonesia kepada publik.
Wakil Dekan FT UGM, Prof. Dr. Ir. Sugeng Sapto Surjono, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., menempatkan momen ini dalam perspektif yang lebih luas. Tiga dekade perjalanan geotermal di Fakultas Teknik kini memasuki babak baru yang lebih konkret.
“Terima kasih kepada PT Geo Dipa Energi, mudah-mudahan ini menjadi awal babak baru dari perjalanan geotermal di Indonesia setelah 30 tahunan perjalanan geothermal di lingkungan Fakultas Teknik,” tambahnya.
Tujuh Klaster Riset: Geotermal sebagai Sistem, Bukan Sekadar Sumber Listrik

Yang membedakan pendekatan FT UGM adalah luasnya cakupan riset yang dikembangkan. Pengembangan geotermal tidak berhenti pada soal eksplorasi energi, tetapi juga mencakup aspek lingkungan, material industri, teknologi ekstraksi, hingga pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat. Tujuh klaster riset yang aktif berjalan mencerminkan pendekatan menyeluruh itu:
- eksplorasi dan pemodelan prospek panas bumi,
- mitigasi lingkungan dan konstruksi area panas bumi,
- pengembangan material industri geothermal,
- teknologi ekstraksi energi panas bumi,
- sinergi geothermal–food–water nexus,
- social engineering masyarakat sekitar panas bumi,
- ekonomi dan regulasi geothermal.
Pendekatan multidisiplin ini menegaskan bahwa geotermal bukan lagi sekadar sektor energi, melainkan penggerak pembangunan berkelanjutan.
Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU., Kepala ERIC Fakultas Teknik UGM, mengingatkan betapa strategisnya posisi geotermal bagi ketahanan energi nasional.
“Dibandingkan sumber energi lainnya, geothermal memiliki potensi strategis yang dapat menempatkannya sejajar dengan energi fosil dan batu bara dalam mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Inovasi “Sulasih Sulandjana”
Di antara inovasi yang lahir dari sinergi ini, satu produk mencuri perhatian: pupuk dan booster silika bernama “Sulasih Sulandjana”. Namanya diambil dari tokoh dewa-dewi kesuburan dalam kearifan lokal masyarakat Sunda/Jawa—sebuah pengingat bahwa inovasi modern tidak harus memutus akar budaya. “Sulasih Sulandjana” mencerminkan filosofi bahwa teknologi tetap berpijak pada nilai budaya lokal dan pelestarian lingkungan.

Produk ini dikembangkan dari pemanfaatan mineral hasil samping operasional panas bumi dan sisa olahan seafood, yang diolah menjadi pupuk kaya nutrisi dan ramah lingkungan. Endapan silika—hasil samping operasional panas bumi yang selama ini belum termanfaatkan—diproses melalui teknologi nano-partikulat menjadi booster cair yang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman, memperkuat ketahanan terhadap hama, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Produk ini dikembangkan khusus untuk mendukung pertanian berkelanjutan di kawasan Dataran Tinggi Dieng—wilayah yang sekaligus dikenal sebagai sentra hortikultura dan kawasan panas bumi aktif.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, menyampaikan keyakinannya akan masa depan inovasi ini.
“Pupuk silika ini memiliki prospek yang sangat menjanjikan di masa depan dan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mendukung transisi energi berkelanjutan,” tuturnya.
Peresmian co-working space ini adalah langkah kecil dengan dampak yang berpotensi besar. Ketika kampus dan industri berbagi ruang yang sama—bukan sekadar menandatangani kerja sama di atas kertas—inovasi seperti Sulasih Sulandjana bukan lagi pengecualian. Ia bisa menjadi awal dari panjangnya daftar solusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan Indonesia.
(Jurnalis LKFT UGM)