Peningkatan efisiensi dan keandalan sistem pendinginan pada fasilitas produksi migas terus menjadi perhatian utama dalam menjaga keberlanjutan operasi. Komitmen tersebut diwujudkan oleh LKFT UGM dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui kegiatan konsinyering Study Engineering Design Package untuk upgrading force-draft air-cooled heat exchangers (ACHEx) yang dilaksanakan di Gedung ERIC pada 11–13 Februari 2026. Forum ini menjadi momentum penting untuk mematangkan kajian teknis berbasis standar rekayasa yang komprehensif dan terukur.
Kolaborasi antara PT PHR dan LKFT UGM menjadi fondasi utama pelaksanaan studi ini. Dari pihak LKFT UGM, Ir. Joko Waluyo, M.T., Ph.D. bertindak sebagai penanggung jawab yang mengoordinasikan tim multidisiplin, meliputi bidang teknik kimia, mekanikal, dan perpipaan. Tim tersebut bertanggung jawab melakukan analisis teknis, simulasi proses, hingga penyusunan rekomendasi desain. PHR berperan sebagai pemilik fasilitas sekaligus pengguna utama hasil upgrading, khususnya pada fasilitas Area 13 di Kota Duri, Riau.

Fokus teknis upgrading mencakup analisis perpindahan panas berbasis konveksi evaporatif, simulasi performa menggunakan perangkat lunak HYSYS, serta perhitungan hidrolika untuk menentukan kapasitas pompa dan ukuran pipa yang optimal. Penentuan konfigurasi nozzle dan ukuran droplet menjadi perhatian khusus guna meningkatkan efektivitas proses evaporasi. Evaluasi material perpipaan juga dilakukan untuk memastikan ketahanan terhadap potensi korosi, mengingat sumber air berasal dari sungai. Perancangan sistem water treatment turut dimasukkan sebagai bagian integral dari rekomendasi teknis.
Agenda konsinyering selama tiga hari difokuskan pada validasi data lapangan, pembahasan hasil simulasi, serta penyelarasan layout dan rancangan teknis. Diskusi intensif menghasilkan kesepahaman mengenai pendekatan desain yang aplikatif, aman, dan memenuhi prinsip keselamatan operasi. Hasil akhir studi berupa dokumen teknis lengkap yang memuat laporan perhitungan, gambar layout, PFD/P&ID, gambar isometrik, serta estimasi biaya implementasi.
Urgensi upgrading ini berkaitan dengan sejumlah tantangan operasional, antara lain distribusi semprotan yang belum optimal, jumlah pompa dan nozzle yang tidak memadai, serta potensi penurunan performa akibat desain awal yang belum terstandarisasi. Penyusunan design package berbasis kajian ilmiah diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pendinginan udara, memperpanjang umur peralatan, serta memperkuat reliabilitas sistem produksi.
Studi ini tidak berhenti pada tahap rekomendasi teknis, melainkan menjadi pijakan menuju fase desain lanjutan dan proses persetujuan pemangku kepentingan, termasuk SKK Migas. Kehadiran dokumen rekayasa yang sistematis dan berbasis data menegaskan komitmen terhadap praktik engineering yang profesional, akuntabel, dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals melalui penguatan energi bersih dan efisiensi, inovasi dan infrastruktur industri, produksi yang bertanggung jawab, aksi terhadap perubahan iklim, serta kemitraan pembangunan berkelanjutan. (Jurnalis LKFT UGM: Anggita Noviana R.)