Konsinyering I penyusunan Sistem Tata Kerja (STK) Pengelolaan Lingkungan PT Pertamina (Persero) digelar pada 3–4 Desember di Gedung ERIC UGM sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola lingkungan perusahaan. Agenda ini menjadi bagian penting dari upaya Pertamina merumuskan struktur kebijakan, prosedur organisasi, dan instruksi kerja yang lebih sistematis setelah dibentuknya direktorat baru di bawah fungsi HSSE yang bertugas menangani portofolio dan operasional lingkungan di tingkat head office. Urgensinya terletak pada kebutuhan akan sistem yang mampu memastikan seluruh kegiatan lingkungan berjalan terstandar, akuntabel, serta selaras dengan regulasi nasional.
Kegiatan ini melibatkan tim Pertamina yang dipimpin oleh Bapak Robert Endrew, selaku Senior Environment Officer, bersama tim akademisi LKFT UGM yang diketuai oleh Dr. Ir. P. C. Sumardi, SU dan Dr.-Ing. Ir. Teguh Ariyanto, ST., M.Eng., IPM., serta dukungan mahasiswa tingkat akhir dan alumni dari Teknik Kimia dan Hukum UGM. Kolaborasi ini menjadi pondasi untuk menyusun dokumen STK yang tidak hanya memenuhi standar Pertamina, tetapi juga berlandaskan prinsip akademis dan praktik terbaik pengelolaan lingkungan.

Pembahasan dalam konsinyering difokuskan pada penyusunan 14 dokumen STK yang terdiri atas 1 Pedoman, 9 Tata Kerja Organisasi (TKO), dan 4 Tata Kerja Individu (TKI). Pedoman akan menjadi payung kebijakan, TKO mengatur alur kerja antar-fungsi seperti pembangunan TPS limbah, perizinan lingkungan, dan penerapan kegiatan ramah lingkungan, sedangkan TKI memberikan panduan teknis pada level individu. Setiap dokumen dirumuskan dengan mempertimbangkan peraturan perundang-undangan, standar operasional perusahaan, serta kondisi nyata di lapangan.
Tahap ini juga berfungsi menyamakan persepsi mengenai format, ruang lingkup, dan kedalaman dokumen yang dibutuhkan. Tim akademisi memberikan perspektif ilmiah dan metodologis, sementara Pertamina menyampaikan best practice operasional sehingga tercipta dokumen yang aplikatif sekaligus sah secara hukum. Hasil konsinyering ini akan menjadi dasar bagi penyelesaian STK menjelang akhir proyek, yang kemudian akan dilanjutkan dengan workshop penyempurnaan pada 17–18 Desember. (Jurnalis LKFT UGM: Anggita Noviana R.)